Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Jangan Bikin Ragu, Mas!

Posted: November 28, 2013 in Uncategorized

Hari ini, hampir seperti hari-hari yang lain, dengan setting latar beberapa bulan ini: sudah pindah ke rumah baru, hanya berdua dengan istri, baru dapet kabar istri hamil dua hari yang lalu. Masih terasa penat dan ngantuk semalam selepas kerja malam kantor untuk support pindahan firewall ke box yang baru. Box yang baru, tapi dengan fitur yang tidak sekaya box yang lama. Dimana ada banyak hal yang harus di concern dalam migrasi ini dan secara bersamaan tidak banyak orang yang memiliki holistic point-of-view ;;belagu dikit, padahal baru googling apa itu holistic :D. Btw ini salah fokus, kenapa jadi kerja malam yang dibahas.. :p

Lanjut…dengan penat dan kantuk masih berasa karena organ dalam tubuh dipaksa on-fire pada jam-jam orang tidur dan tahajud, pagi ini harus bangun sebentar untuk delivery wife, eh salah, nganter maksudnya (heran juga Vicky style udah ga jaman padalah belum ada satu semester). Jadi pagi ini istri tercinta harus menghadiri meeting di kantor regional daerah Gandul, Cinere. Jarak rumah ke kantor sekitar 20 menit ojek plus 5 menit rumah ke pangkalan ojek, what an easy task! hehe…

Saat mata masih kriyip-kriyip, terjadilah obrolan
“Nanti berarti bilang ke tukang ojek nya untuk pelan-pelan yah?”
“Ya” -dengan pengucapan pendek gaya Mario Teguh
Tapi “ya” singkat ini justru sebetulnya memunculkan reaksi berantai di otak yang tidak sesingkat yang terdengar dari mulut, mungkin juga demikian yang dialami Mario Teguh makanya kepalanya botak karena otaknya high utilized akibat kebanyakan “ya” pendek ini ;;salah fokus lagi.

Penjelasan reaksi otak saat “ya” pendek tadi kurang lebih: istri baru ketahuan hamil dua hari,tukang ojek mungkin masih dapet 1-2 rit sepagi ini, tekanan ekonomi, kenaikan BBM, dan autopilotnya inflasi di negri ini pasti kebanyakan dirasakan golongan menengah ke bawah termasuk tukang ojek yang nanti kita mintain tolong. Walhasil semuanya kalau di OR kan akan menghasilkan output yang hampir pasti: sudah bilang untuk pelan-pelan, tetap saja tukang ojek bawa motor tidak sehalus yang diharapkan dikarenakan perut istri memang belum terlihat seperti orang hamil, dan ending nya adalah “calon anakku gimana nanti?!”

Berbekal output processing dengan display “ya” pendek ini, akhirnya organ dalam seperti terlumasi dengan oli sintetis, siap melaju ke Gandul. Perjalanan ke Gandul kali ini mengambil rute yang lebih sepi dengan menghindari jalur orang berangkat kerja. Kita skip bagian perjalanan ke Gandul, kalaupun ada yang bisa diceritakan hanya beberapa komplek perumahan baru dan tempat pemancingan. “Tapi kita disini bukan untuk itu saja!” kata pak ustadz dalam ceramahnya atau motivator dalam seminarnya :p

Singkat cerita, istri dan calon jabang bayi sudah dilivered dengan aman dan tinggal pulang balik ke rumah sebelum lanjut tidur. Di perjalanan pulang, kebetulan ada sedan soluna warna biru yang sepertinya searah. Dikarenakan jalur berangkat ini jalur yang baru hari ini dilalui, maka tantangannya adalah me-reverse jalur ini. Dengan naluri navigasi yang kurang bagus, mungkin karena space otak banyak yang ter-utilize sehingga menyisakan sedikit L1-L2 cache ;;baca lagi mata kuliah Orkom untuk mengingat kembali apa itu L1-L2 cache, hehehe belagu lagi…

Jadi singkat cerita soluna warna biru tadi sebagai penunjuk arah, maklum jalur ini banyak perumahan dengan jalur utama yang berkelok-kelok, mendaki lagi sukar, hehehe. Simplify penulisan, akhirnya sampailah di tikungan jalan masuk ke kampung sekitar rumah. Jalur ke rumah memang sekitar 50 meter terakhir adalah jalan dengan ukuran 1,5 mobil, yah kira-kira sekitar 3 motor lah. Jadi 1,5mobil=3motor, atau 3mobil=6motor, atau 1mobil=2motor…apasih!

Beberapa motor tampak berlalu berlawanan arah, sepertinya berangkat kerja. Sampai akhirnya tibalah di pertigaan pertama. Layout pertigaan ini adalah -60 derajat arah kampung lain dan 60 derajat arah ke rumah. Gas sudah disesuaikan, tangan dan kaki siap di tuas dan pedal rem. Daaan….tiba-tiba dari arah -60 derajat datanglah motor hendak menuju arah yang berlawanan. Bapak ini, sebut saja Agung (bukan nama sebenarnya), lelaki separuh baya mungkin sekitar 40-45 an dari kontur wajahnya. Pak Agung (sekali lagi saya ingatkan, bukan nama sebenarnya) tampak berpakaian rapi dengan sepatu kulit warna hitam mengkilat, nampaknya mau berangkat ke kantor.

Ackward moment pun terjadi, kami saling mengerem dan meng-gas, saling ragu mana yang duluan. Sampai akhirnya si bapak memutuskan untuk mengunci ban depan nya. Nahas, pertigaan ini aspalnya sedikit berpasir sehingga ban depan beliau slip dan motor terguling ke kanan. Terlihat sepatu kiri pak Agung terlepas dan tertindih motor plus ada bagian bodi motor yang copot akibat peristiwa beberapa detik ini. Sontak otak tiba-tiba blank sejenak, sampai beberapa ratus milisecond berlalu dan tiba-tiba tersadar harus turun dari motor. Standar sudah dibuka dan dengan segera menghampiri motor pak Agung. Anehnya tidak ada rasa berdebar karena takut ato marah ato yang lainnya. Mungkin karena kalau dipikir memang sama-sama salah karena sama ragu-ragu nya. Atau mugkin juga karena sudah beberapa kali accident motor dan mobil, sehingga menghadapi kejadian tak terduga seperti ini seperti sudah terlatih.

Motor pak Agung sudah diangkat, sepatu sudah diambil dan didekatkan ke si bapak, dan bagian bodi tadi masih di tangan. Mulailah otak beroperasi lagi mencari bagian bodi mana yang terlepas ini dan bagaimana mengembalikannya. Tidak sampai 500milisecond, akhirnya ketemulah bagian neck motor ada bodi plastik yang lepas. Segera saja dikembalikan sesuai posisinya, dan syukurlah sepertinya bagian ini memang tidak terbaut sebelumnya jadi mudah sekali terlepas. Selesai membereskan motor lalu mendekati si bapak, masih dengan pikiran dan perasaan kosong yang aneh, seperti siap menerima sesuatu…

“maaf ya pak…”
Si bapak terlihat sudah beres dengan sepatunya sambil memberikan isyarat telapak tangan ;;”it’s okey”….perhaps
“jangan bikin ragu mas!” akhirnya si bapak bersuara
“iya pak, maaf ya…”

Entah kenapa kalimat “jangan bikin ragu mas!” itu seperti tertuang di gelas kosong, mengalir dan menggenang dengan leluasa. Kejadian dengan sepenggal kalimat ini jauh lebih bermakna rasanya dibandingkan ketika mendengarkan ustadz seharian berceramah atau motivator berbicara full-session. Aku hanyalah manusa biasa, jelas bukan rasul, nabi, wali, atau aulia. Maka tidak mungkin Allah berbicara padaku via wahyu. Bila tak renungkan bahwa Allah bisa jadi berbicara kepadaku melalui kejadian sehari-hari, sepenggal kalimat “jangan bikin ragu mas!” menjadi sangat berbeda maknanya. Sepenggal kalimat ini bisa bermakna berjuta kemungkinan dengan hasil akhir beberapa opsi saja kalau dikaitkan dengan kehidupan akhir-akhir ini. Tiap personal memiliki tingkat kedalaman dan kearifan masing-masing memahami setiap kejadian dalam kehidupannya, itu! ;;”Itu!” pendek gaya Mario Teguh juga.

Kalau aku bayangkan Allah sedang berbicara langsung kepadaku “jangan bikin ragu, Dod!”, maka dimensinya akan sangat berbeda. Menjadikan kita mendekat kepada Sang Pencipta. Seperti halnya ketika kita bertadarus Quran, yang sudah seharusnya tartil. Karena membaca kalimat Allah di dalam Quran, seolah seperti Allah sedang berbicara langsung kepada kita melalui diri kita sendiri. Maka bagaimana bila komunikasi seperti ini tidak tartil?

Semoga bermanfaat 😀